Home

Telah Lahir : Nuha Samira Nugroho

26 Desember 2009, menjadi hari yang bersejarah bagi keluarga kami. Lewat perjuangan yang heroik, istri akhirnya berhasil melahirkan seorang bayi, berjenis kelamin perempuan, dengan berat 3,46 kg, dan panjang 49 cm. Bayi yang berukuran besar, meski belum sebesar Abinya, dulu…. aku lahir dengan berat 4,1 kg.  Wajahnya bulat, mirip Uminya, Bibirnya Kecil, mirip Uminya.Hidungnya juga mirip Uminya. Jidatnya nonong, mirip Abinya.. Ia lahir dengan rambut tebal, mirip Abinya. Pipinya merah merona, mengingatkan aku akan julukan Siti Aisyah ” Humaira”. Kulitnya putih bersih, Nah, dua hal ini yang nggak mirip Abi maupun Uminya, he..he… kalau warna kulit, kayaknya ngikut dari kakak -kakak kandung ane yang warna kulitnya putih, juga kakak kandung istri yang juga putih. Belakangan setelah tambah gede, ternyata warna kulit putriku mirip abi dan umminya, ha..ha..ha..

12 Jam menanti… Berangkat dari Indramayu pukul 05. 00 pagi, dalam kondisi sudah keluar flek, sampai di rumah sakit, sudah bukaan tiga. Setiap satu jam, aku dan ibu mertua bergantian menjaga istri, dan setiap bukaan bertambah, istri tambah menyeringai kesakitan, meski tidak menangis maupun menjerit-jerit. Baru ketika masuk bukaan kedelapan, istri mulai menangis, yang bikin haru adalah ketika istri meminta maaf kepada ibu kandungnya, dan kepada diriku, meminta maaf atas semua kesalahan. Ibu mertua pun menangis, ibuku juga menangis, sementara aku cuma bisa diam, dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, sosok perempuan nampak luar biasa, ketika mereka tengah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan bayi yang ada di dalam kandungannya, dan lelakipun pantas iri, jika Rasulullah mengatakan bahwa Syurga itu ada di telapak kaki Ibu, 

Aku melihatnya, aku menyaksikannya, ketika mulai nampak rambut bayi itu, ketika istri terus berusaha tapi sang bayi tidak juga mau keluar. Setiap kali istri mulai putus asa, setiap kali itu pula kami mulai menyemangatinya. Dokterpun, dengan sangat dinginnya berkata, ” atau divacuum aja “. Istripun berteriak, ” jangan..jangan divacuum !!!” Maka perjuanganpun terus berlanjut,tak peduli, pagi sudah menjadi siang, siang sudah menjadi sore, dan sore pun mulai beranjak ke petang. Air ketuban pecah….. Sosok makhluk itu akhirnya keluar, dengan diiringi kesyukuran seluruh orang yang mendampingi proses kelahiran itu, meski sepercik rasa khawatir muncul di dada, ketika kulihat bayi itu keluar dengan warna tubuh agak hijau kebiruan, tidak juga si bayi menangis layaknya proses kelahiran pada umumnya.Dan di lehernya, tali pusar si bayi mengikat bahkan nyaris tercekik. Tapi Dokter dengan sigapnya segera memotong tali pusar yang menjerat leher, kemudian memasukkan selang ke hidung si bayi, dan tak lama kemudian suara si bayi mulai terdengar. Dengan cepat, bayi segera dibawa ke ruangan ang berbeda. Kekhawatiran lenyap, ketika Dokter mengucapkan selamat kepadaku, dan memintaku untuk mengadzani si bayi. Akupun segera mencari putri kami, dia.. di pojok ruangan… dihangati dalam sebuah boks bayi dan lampu penerangan.. Dengan agak canggung, kutatap wajah polosnya, matanya nampak mengamati diriku. Aku gugup, melihat kehidupan baru ini, sejuta perasaan aneh muncul, aku pun mengucapkan basmallah, mencoba mendekatkan diri ke telinga si bayi, tapi tiba – tiba…. Aku bingung… “bagaimana bunyi adzan ?? ” Oh tidaaak !!!!. Sambil mengingat-ingat, akupun mulai melafazkan takbir, terus…. tapi tiba -tiba aku sadar, yang kulafazkan bukan adzan, tapi takbiran seperti malam hari Raya Idul Fitri !!! Tuing…tuingg…tuinggg…Tiba -tiba aku tertawa sendiri, kemudian mulai mengulang kemblai, beradzan..kali ini dengan bunyi adzan yang benar…..Belum lagi berakhir aku melafazkan bacaan adzan, terdengar suara adzan dari Masjid Pertamina Cirebon…Alhamdulillah, bayi kami lahir… meski awalnya mengkhawatirkan, tapi akhirnya kami bisa tersenyum bahagia… Sejak itu putri kami tambah gemuk, neteknya kuat, kalau pagi sampai sore anteng, kalau malam suka bikin Abi dan Uminya tidak bisa tidur dan ngantuk di pagi harinya… Kuberi dia nama, ” Nuha Samira Nugroho “, Nuha artinya yang cerdas, Samira yang artinya pandai menghibur, sementara Nugroho sebagai pengingat bahwa ayahnya adalah Danang Nugroho, sekaligus bentuk kesyukuran atas Anugerah dari Allah. Akhirnya, aku berharap, agar sosok kecil kami ini, kelak bisa menjadi sosok yang cerdas, yang pandai menghibur ayah dan ibunya ketika kami sedang sedih, yang bisa menghibur suaminya ketika suaminya sedang ditimpa ujian, yang bermanfaat bagi Umat, karena kata Rasulullah, sebaik -baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Dipublish ulang 8 Mei 2013 di Sumatera Selatan,

Salam kangen buat Putri Tercinta…semoga engkau selalu sehat, nak, dan selalu dijaga Allah…amiin..

 

Salam sayang dan kangen buat putri tercinta….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s